Rabu, 19 Juli 2017

KKN Di Desa Citimbang Part II - Induk Semang

Citimbang Part II - Induk Semang.
Kalau kalian belum sempat membaca postingan gue tentang KKN di Desa Citimbang Part I, maka bacalah dulu baru lanjut baca postingan ini. Postingan ini dibuat karena sebentar lagi KKN Unsoed akan segera dilaksanakan dan kebetulan Kecamatan Salem masuk ke dalam salah satu opsi tempat KKN Posdaya.


Induk Semang.
Induk Semang adalah sebutan bagi tuan rumah tempat kita tinggal selama melakukan kegiatan KKN. Induk Semang biasanya dipilih atas dasar rekomendasi dari pemerintah desa tempat kita melakukan KKN, karena tidak semua masyarakat mau rumahnya ditempati oleh mahasiswa yang melakukan KKN. Oleh karena faktor "untung-untungan" sangat menentukan untuk mendapatkan Induk Semang yang sesuai dengan harapan mahasiswa.

Dulu sempat terjadi drama ketika gue dan teman teman lainnya pergi untuk melakukan survey dan mencari Induk Semang. Pada awalnya, kita semua disambut di balai desa Citimbang oleh Pak Ompong dan rekannya, kita diberikan arahan dan wejangan oleh beliau dan kadang diselipkan bercanda yang  tidak lucu sama sekali. Pada waktu itu kita tidak bertemu secara langsung dengan kepala desa karena beliau sedang ada kegiatan lain. singkat cerita sampailah di bahasan mengenai induk semang, kita direkomendasikan untuk bertemu dengan Ibu Idoh (yang kemudian kami menyebutnya Maidoh), Maidoh ini merupakan Induk Semang KKN tahun lalu dan direkomendasikan kembali untuk menjadi Induk Semang KKN tahun ini (Agustus 2016). Selain itu, kami juga diberikan opsi yang lain, yaitu tidur di balai desa selama kegiatan KKN berlangsung. iyak, TIDUR DI BALAI DESA. 

Pada awalnya Maidoh menolak untuk menjadi induk semang, karena waktu itu beliau mengatakan tidak sanggup untuk menjadi induk semang, karena terlalu capek. saat itu kami hanya bisa pasrah jika harus tidur di balai desa selama 35 hari. Pada hari pertama kami survey, maidoh belum bersedia untuk menjadi induk semang. Kemudian kami kembali ke Purwokerto dengan pasrah. karena salah satu anggota kelompok kami ada yang merupakan warga asli Salem, maka kami meminta bantuannya untuk kembali nego dengan Maidoh terkait kebersediaannya untuk menjadi Induk Semang, dan ALHAMDULILLAH MAIDOH BERSEDIA, jelas kami sangat senang karena tidak harus tidur di balai desa selama 35 hari. saat itu kami membayar uang sebesar Rp.850.000/orang untuk membayar rumah dan mendapatkan makan 2x/hari selama satu bulan. 

Setidaknya kami masih tinggal di dalam rumah, bukan di Balai Desa :")

Tapi ternyata kebahagian itu tidak bertahan lama...

- To Be Continued -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar